Minggu, 03 Maret 2019

[Review Goodbye Days – Jeff Zentner] Merengkuh Kehilangan Sebagai Bagian yang Tak Menyakitkan.

| | 2 komentar


Review Goodbye Days – Jeff Zentner
Merengkuh Kehilangan Sebagai Bagian yang Tak Menyakitkan.


Judul: Goodbye Days
Penulis: Jeff Zentner
Penerjemah: Yudith Listiandri
Pemeriksa Bahasa: Brigida Ruri
Penyunting: Herliana Isdianti, Mery Riansyah
Penyelaras Aksara: Abduraafi Andrian
Ilustrasi Sampul: Herniyani (animaji)
Penata Sampul: @teguhra
Penerbit: Spring
Cetakan: ke-1, Desember 2018
Jumlah: 436 halaman
ISBN: 978-6026682-32-1

[BLURB]

Sebelumnya, Carver memiliki segalanya: tiga sahabat, keluarga yang sportif, dan reputasi sebagai penulis berbakat di sekolahnya.

Hari berikutnya, gara-gara pesan singkat yang dia kirimkan, dia kehilangan ketiga sahabatnya dalam suatu tabrakan.

Sejak peristiwa itu, Carver tidak bisa berhenti menyalahkan diri, dan dia tidak sendirian. Saudari kembar salah satu sahabatnya membencinya. Ayah sahabatnya yang lain, seorang hakim, ingin menuntutnya.

Semua itu hanya karena satu pesan singkat.

Akankah dia berhasil menghadapi rasa kehilangannya? Bisalakah dia memaafkan diri sendiri dan menghadapi keluarga-keluarga sahabatnya? Atau... akankah dia dipenjara atas perbuatannya?

****

Carver masih diliputi kesedihan setelah kehilangan ketiga sahabatnya, Blake Lloyd, Eli Bauer, dan Mars Edwards (kini hanya dia yang tersisa dari Sauce Crew), ketika perasaan lain ikut menghantui hidupnya. Ketakutan yang perlahan terbangun saat menghadapi sikap permusuhan Adair (saudari kembar Eli) atau usaha Ayah Mars untuk membuatnya dituntut. Belum lagi rasa bersalah yang melanda karena mungkin dialah penyebab rangkaian tragedi nahas itu, ditambah kemungkinan dia mengambil apa yang harusnya menjadi milik sahabatnya.

Bisa dikatakan, cerita ini menggambarkan hari-hari yang harus Carver hadapi setelah mengirimkan pesan singkat yang harusnya merupakan hal remeh sebagaimana rutinitas umum pada remaja seusianya. Di mana kalian? Balas pesanku. Yang tak pernah Carver bayangkan akan merenggut sumber kebahagiannya.

Ketika memaafkan diri sendiri menjadi hal yang begitu sulit, ia mulai mengalami serangan panik dan membutuhkan pertolongan ahli untuk mengatasinya. Dan di sinilah, peran orang-orang tercinta diperlihatkan secara manusiawi, dalam segi baik-buruknya.



Ketertarikanku membaca novel ini tak lain dari premis cerita yang menarik begitu kubaca blurbnya. Akan tetapi, alasanku menyelesaikannya lebih karena aku membutuhkannya. Aku butuh formulanya untuk mengatasi kesedihan, rasa takut, dan rasa bersalah. Meski dalam situasi yang berbeda, aku terus mengidentifikasi diri sebagai tokoh-tokoh dalam cerita. Membuatku perlu waktu lebih lama untuk menyelesaikannya. Ya, kuakui tak mudah membaca cerita pilu ketika luka lain meminta perhatianmu. Namun, kurasa semua itu terbalaskan oleh sekantong penuh pesan dan cara pandang positif yang ditawarkan.


Kalau ada kutipan yang bisa menggambarkan cerita Goodbye Days, maka dengan senang hati kupilih yang satu ini:

Ini bukan masalah membersihkan dirimu dari perasaan apa pun, tapi justru merangkul semua perasaan itu dan hidup dengan mereka. Menjadikan mereka bagian dari dirimu yang tidak terlalu menyakitkan. Hlm 275.

Rasa kehilangan digambarkan penulis dengan beragam cara yang bertumpuk dalam satu cerita yang kaya emosi. Memberikan sensasi intim akan banyak kemungkinan yang bisa kautemui untuk menghadapi hari setelah episode kehilangan. Meski dilimpahkan pada satu tokoh untuk membawakan rangkuman kisah, tapi penulis dengan sukses membangun banyak situasi dan nuansa yang saling berseberangan. Bahkan dengan mengambil sudut pandang Carver secara khusus, rasa kematian itu semakin berwarna apalagi dibantu oleh interaksinya dengan para keluarga korban dan sesekali flashback masa kehidupannya yang masih normal bersama Sauce Crew, membuat kita (pembaca) lebih mudah menyelami kehidupan dan karakter para tokohnya.

Tokoh-tokoh yang kurasa sangat hidup. Dan kalau aku jadi salah satu karakter di sini, mungkin aku pilih Blake. Dia tidak pernah mengasihani diri sendiri atas apa yang diberikan hidup kepadanya.

Kalau boleh jujur, sebenarnya masih banyak tokoh lain yang punya kehidupan jauh lebih layak, tapi dalam beberapa aspek aku sangat respek dengan tokoh yang lebih mementingkan senyum dibanding harga diri itu.


Sedangkan untuk kisah atau adegan terbaik, semuanya bersaing secara ketat. Aku tak bisa memilih salah satunya karena secara garis besar aku sangat menikmati ide tentang ‘hari perpisahan’ di sini yang sangat tepat dijadikan judul. Apa yang dilakukan untuk ‘hari perpisahan’ dalam cerita sangat menggoda untuk kulakukan. Bahkan ketika aku menulis review ini, aku telah mempertimbangkan beberapa hal dan bertanya-tanya mana yang lebih dulu ingin kulakukan. Impresi yang ditimbulkan terlampau nyata untuk kuanggap mustahil/berlebihan.

Baik untuk pecinta alur cepat atau lambat, kurasa buku ini tetap cocok untuk dibaca kedua tipe pace tadi. Begitu pula untuk pecinta cerita gloomy maupun bukan (efek selipan dunia seni yang jadi background tokoh utamanya). Sensasinya hampir mirip ketika membaca 13 Reason Why, tapi untuk bagian nuansa/emosi, bukan muatan/gaya berceritanya.

Gaya bahasanya sendiri cukup nyaman dengan banyak kalimat yang quotable dan penuh pesan, apalagi beberapa sarkasme yang akhirnya terkesan sebagai humor yang cerdas. Bagian kesukaanku ketika membaca karya terjemahan.  Yang baru berkenalan dengan novel terjemahan juga tak perlu khawatir karena kujamin terjemahan Spring selalu mudah dipahami + dinikmati. Over all, buku ini sangat kurekomendasikan untuk kamu yang ingin mengatasi kehilangan ataupun kamu yang ingin belajar memahaminya.


Blogtour & Giveaway

Buat kalian yang masih penasaran hal menarik apa aja yang bisa ditemui dalam Goodbye Days, pantau terus rangkaian blogtournya ya. Bakal ada juga kuis final blogtour di Fb Penerbit Spring berhadiah satu novel ini loh. Check it out!





Read more...

Minggu, 04 November 2018

Nikmatnya Cinta Berbalas ala Romansa Kantor - Review What a Boss I Want karya Christian Simamora

| | 0 komentar



SATU-SATUNYA YANG LEBIH LUAR BIASA DARI MENCINTAIMU ADALAH KETIKA TAHU KAU JUGA MENCINTAIKU.
***
SEDUCE ME LIKE YOU’RE TRYING TO GET A PROMOTION
Setelah cukup lama nyaman dengan status single-nya, akhirnya Soleram Anand jatuh cinta lagi. Kabar buruknya, dia jatuh cinta dengan bosnya sendiri. Tak hanya cerdas dan penuh semangat, Jiro Amadeus Vimana juga memiliki aura seksi yang membuat jantung Sol berdebar hebat. This is really unprofessional. Makanya, satu-satunya cara supaya tak kehilangan respek dari teman-teman sekantor adalah dengan mengubur perasaan itu dalam-dalam dan fokus dalam pekerjaan barunya.

TREAT ME LIKE I’M THE COMPANY’S BIGGEST CLIENT
Yang Jiro inginkan adalah menjalani jabatan sebagai direktur Toybox sebaik mungkin, sekaligus berharap suatu saat papanya akan berhenti memandangnya sebelah mata. Dia juga ingin Toybox rutin memproduksi plush toy dengan karakter orisinal, yang suatu saat bisa dijual lisensinya secara internasional. Ambisi besar itu membuatnya mengenal Sol. Jiro yakin sekali, potensi besar cewek itu sanggup membawa Toybox bergerak maju sesuai dengan visi barunya.

KISS ME LIKE YOU WANT TO GET FIRED
Namun, setelah spontan berciuman dengan Sol—diikuti dengan malam-malam terpanas dalam hidupnya—Jiro sadar cewek itu tak lagi sekadar desainer baru di perusahaannya. Kini, bertambah satu hal lagi di daftar keinginannya: memastikan Sol jadi miliknya....



#WhataBossWants | #ChristianSimamora | Roro Raya Sejahtera | 2017 | 424 hlm.

What a Boss Wants ini adalah series #JBOYFRIEND sekaligus novel dewasa Bang Christian Simamora pertama yang kubaca. Iya, tahu. Telat banget kan aku? Hehehe. Habisnya pas baca novel “Macarin Anjing” yang bikin aku terpikat sama judulnya, aku agak-agak gimana gitu. Tahunya, novel-novelnya yang sekarang ‘genre dewasa’ ternyata jauh lebih berbobot dan karakternya lebih loveable. Oh iya, faktor lainnya kenapa aku baru baca juga berkaitan sama umurku yang belum lama dewasa juga sih, wkwkwk. Tapi sampai sekarang aku masih malu buat bawa novel-novelnya Bang Ino keluar dari rumah. Kebanyakan sampulnya berbahaya, hahaha.
____
.
Satu-satunya yang lebih luar biasa dari mencintaimu adalah ketika tahu kau juga mencintaiku.
.
Tagline yang sungguh memikat.
.
Memasuki bagian awal, kita akan diajak mengenal tokoh Jiro Amadeus Vimana dan kondisi keluarganya.
.
Papa, meskipun bukan tipe yang romantis, mencintai Mama dengan caranya sendiri. Hal 5.
.
Uh, hatiku menghangat. Keep strong Jiro!
.
Seorang pemimpin nggak sekali-dua kali dihadapkan pada situasi dilematis seperti ini. Hal 13.
.
Kalo pas baca MA aku agak illfeel sama agresifnya si tokoh utama cewek mengingat usianya, di sini aku dibuat sehati sama Sol. Baper-gak-baper yang lucu ngegemesin.
.
Kalo biasanya aku gak suka perkembangan hubungan yang cepat, di sini aku justru tergeletik dengan rasa yang mendahului logika. Cocok, soalnya gak angkat tema 'benci jadi suka'.
.
Kamu itu bahaya buat saya. Buat jantung saya, paling nggak. Hal 269.
.
Pendekatan mereka yang merupakan perpaduan dari kesempatan, keinginan dan takdir terasa pas. Gak timpang. Serta bukan jenis cerita dengan banyak kebetulan yang dipaksakan. Suka chemistry mereka meski gak sampai wow dan masuk daftar sebagai couple favoritku. But i like them together.
.
Aku meragukan beberapa argumentasi tentang karakter mereka dalam kepalaku. Pengalaman asmara dan cara pandang mereka kadang terasa kontras. Atau akunya saja yang mungkin melewatkan beberapa detail.
.
Mencium adalah aktivitas yang nikmat, tapi dicium balik menghadirkan spektrum emosi yang lebih luar biasa. Hal 227.
.
Masuk kategori novel dewasa. Jadi silahkan yang masih di bawah umur untuk bersabar menunggu sampai saat yang cukup layak. Be wise.
.
Dengan senyuman semanis itu. Apa yang hendak kamu tawarkan padaku: jatuh hati atau patah hati? *hal 21.
.
Meski pada akhirnya dua tokoh utamanya bukan karakter favoriku tapi lumayanlah gak bikin pingin banting buku, hehe. Sementara itu di bagian relationship, aku suka kompaknya Sol + Mat (si Rahmat). Asyik kali ya punya temen kantor 'serba tahu' kayak gitu. Meski kadang rese dan ajaib, dia mau care & support. Jadi iri.
.

.
Pengalaman bertahun-tahun berbisnis dengan banyak relasi mengajarkan kalau jawaban 'tidak' itu bukan akhir dari segalanya. Hal 12.
.
Feel perusahaan mainannya dapet banget. Aku sampe searching beberapa info baru yang kudapat. Untung aku cukup peka untuk membedakan info asli dengan yang dipelesatkan namanya.
.
Copyright. Hak cipta. Lisensi. Legal.
Ya ampun, para pembajak produk apa pun harus baca ini. Malu aku sama masa lalu. Btw, konsumen tahu kalo produk yang dipake udah pegang lisensi resmi atau belum dari mana ya? Ah pokoknya aku suka info-info yang tersaji di sana. Berasa jadi setingkat lebih pintar. Hehe.
.
Nama produknya juga unyu-unyu banget, jadi ikut mengandai-andai visual mainannya bakal sekece apa. Anak desain emang kreatif.
.
Dan oh, baru tahu buku (langka) inceranku "Ghost Girls" ternyata dijadikan sebagai media promosi dari karakter mainan yang saat itu dirilis. Nice info.
.
Quote lain yang kusuka:
.
365 hari dalam setahun. 365 kesempatan untuk mencoba. 365 kemungkinan akan gagal. 365 alasan untuk mencoba lagi. Hal 113.
.
Meskipun firasatmu sudah mengingatkan, kau tak bisa menyangkal kalau tawaran dari kegelapan itu terdengar menggiurkan. *hal 152.

Read more...

Senin, 24 September 2018

Momen Sempurna dari Hidup yang Tak Sempurna – Review Write Me His Story Karya Ary Nilandari

| | 2 komentar


Momen Sempurna dari Hidup yang Tak Sempurna – Review Write Me His Story Karya Ary Nilandari



Judul: Write Me His Story
Penulis: Ary Nilandari
Ilustrasi Sampul dan Isi: Muhammad Kumara Dandi
Penyunting Naskah: Prisca Primasari dan Rangga Saputra
Penerbit: Pastel Books
Terbit: Cet. I, Agustus 2018
Jumlah Halaman: 452
ISBN: 978-602-6716-40-8
Harga: Rp 90.000,-

*Blurb*

Wynter Mahardika tidak pernah menulis buku harian. Untuk apa? Enam belas tahun hidupnya berantakan. Mum, Dad, dan ibu tiri, hanya singgah sesaat lalu membiarkannya tumbuh seperti semak liar. Selain mata biru dan darah British-nya, tidak ada yang menarik untuk dicatat. Kejailannya pada cewek-cewek? Ah, itu cuma pelampiasan kebencian pada makhluk satu itu.

Kemudian muncul Wynn, cowok adik kelas yang serba kebalikan dari Wynter. Wynn meminta Wynter menjadi penggantinya sebagai sahabat untuk Hyacintha dan menulis buku harian bersama cewek itu.

Cewek? Menulis harian pula? Kurang kerjaan banget. Lagian, Wynn mau ke mana?

Setelah Wynn berjanji membantunya meraih kembali keluarga tercinta, Wynter pun menyanggupi. Ternyata tugas itu tidak mudah. Wynter lebih berfokus pada Wynn yang ia sayangi kayak adik sendiri, dan kebenciannya pada cewek susah hilang.

Demi Wynn, Wynter berusaha menjadi sahabat yang baik, tapi masalah baru datang: ia jatuh cinta dengan Hya. Bagaimana ia bisa menjaga amanat Wynn?

********

Write Me His Story, karya pertama Kak Ary Nilandari yang kubaca. Berkisah seorang bocah lelaki korban broken home yang menyerah untuk dicintai kembali. Prasangka membuatnya apatis memandang segala hal terlebih jika itu berkaitan dengan sosok perempuan. Mengenyahkan sesuatu yang sebenarnya dia inginkan. Dia butuhkan.

Aku telah membenci karena tahu, merindu itu lebih menyakitkan. Tapi dengan membenci, ternyata kerinduan juga tidak hilang,
[Halaman 148]

Kehadiran Wynn perlahan mengubahnya. Mencairkan hatinya yang pernah membeku. Akan tetapi waktu mereka terbatas dan masih banyak hal yang harus diselesaikan. Menulis buku harian bersama Hya, sahabat Wynn sejak kecil adalah salah satunya. Mengisi buku yang mereka sebut sebagai WMHS ini jadi rumit ketika perasaan lain diam-diam menjerat Wynter. Ia terancam tak bisa lagi berperan sebagaimana rencana semula.

Kehidupan memang enggak sempurna, tapi punya momen-momen sempurna.
[Halaman 256]


v  Cover, Layout, Ilustrasi
Cover buku yang didominasi warna putih dan biru serta sesosok pemuda kurasa cocok untuk menggambarkan sosok Wynter yang lekat dengan nuansa musim dingin. WMHS yang berjatuhan dengan mengusung warna orange memberikan kehangatan tersendiri. Eye catching! Masih membahas cover, penambahan informasi “The Most Emotional Story on Wattpad” juga menjadi daya tarik bagi pembaca yang sedang mencari buku dengan emosi yang berkecamuk karena memang begitulah gambaran novel ini.

Layoutnya rapi dan nggak bikin boring. Perpaduan format cerita berupa chat line, e-mail, penggalan diary dan sejenisnya merupakan nilai plus tersendiri. Variasi font yang dipakai untuk membedakan dengan cerita utama juga sangat membantu pembaca agar tidak rancu.

Ilustrasi isi, meski tak terlalu banyak, tapi sudah cukup memberi penyegaran pada mata mengingat betapa tebalnya buku ini. kalau boleh disamakan, mungkin gambar di dalamnya setipe ilustrasi komik atau webtoon. Satu detail yang rasanya mengganjal adalah ilustrasi di halaman 240 di mana rambut Hya digambarkan tergerai, padahal di halaman 241 diterangkan Hya sedang kucir satu. Detail remeh tapi semoga bisa lebih diperhatikan ke depannya.

v  Tema, Judul
Mengangkat tema keluarga, persahabatan serta hidup. Membuka mata kita lebih memeperhatikan dan menghargai apa yang masih kita genggam. Tak lupa dihiasi bumbu romansa ala anak ABG yang menggemaskan serta selipan selentingan agama dan perjalanan spiritual salah seorang tokoh di dalamnya membuat novel ini makin kaya.

Tentang pengingkaran dan kemarahan. Tentang ketidakberdayaan dan keputusasaan. Lalu, pada akhirnya, kepasrahan dan penerimaan.
[Halaman 94]

Write Me His Story yang diusung sebagai judul novel begitu erat kaitannya dengan benang merah cerita berupa buku diary WMHS. Hanya saja kepanjangan WMHS sendiri memang multitafsir. Bahkan Wynter sering membuat kepanjangan-kepanjangan konyol dari inisial tadi. Dia mah emang kelewat kreatif orangnya.

v  Karakter, Chemistry
Wynter Mahardika, cowok blasteran yang sejak usia 8 tahun pindah dari London ke Indonesia, sekarang kelas 1 SMA Darmawangsa. Hidupnya yang terkesan sendu rasanya pingin narik dia ke dalam pelukan dan kasih puk-puk biar sedihnya hilang. Kalau kata Wynn sih:

Wynter adalah the loneliest boy on Eart, makhluk asing yang mengasingkan diri dan akhirnya beneran terasing.
[Halaman 413]

Seorang yang apatis, enggak mau dekat-dekat cewek, tajam mulut, berpenampilan berantakan terutama ketika mengenakan seragam, suka bolos kelas, dan biangnya troublemaker (kelewat iseng juga). Meski begitu dia masih tetap populer di kalangan para remaja putri berkat ketampanan dan pesona mata birunya. Dia juga punya auditory memory, dan lumayan jago wushu. Tipe cowok cool yang aslinya kocak. Orang yang sangat setia kawan serta aslinya so sweet. Bikin gemeslah pokoknya.

If you don’t want a sarcastic answer, don’t ask a stupid question!
[Halaman 350]

Kasiha Wynn. Anak saleh itu jadi kelaparan mengikuti anak salah.
[Halaman 179]

Wynn Maharesi. Anak bungsu dari tiga bersaudara yang semuanya cowok. Senang musik dan main piano. Punya hati bak malaikat yang sayangnya punya masalah urgent. Gak tega aku, pingin ikut manjain dia juga.

Kupikir, berdamai dengan keadaan bukan berarti menyerah kalah.
[Halaman 286]

Hyacintha Sheridani. Spoiler akut, pandai mendongeng, sahabat Wynn sejak kecil. Gak cuma Wynter yang ngerasa dia tipikal cewek banget, aku yang cewek aja ngerasa gitu (kalah saing, wkwkwk)

Karakter lain yang gak kalah loveable itu ada Bang Enver dan Bang Ryan kakak Wynn serta Raiden sepupu Wynn. Ya ampun, keluarga itu penuh orang yang mempesona. Btw, ini semua karakternya punya nama yang agak sulit (dilafalkan atau diingat) tapi juga unik dan antimainstream. Plus kalo dihubungkan sama karakter mereka, rasanya cocok bangeeeet.

Untuk masalah chemistry, aku paling suka chemistry-chemistry para cogannya. Bromance gitu deh. Bukan berarti bumbu romance yang asli gak asyik, tapi tetep aja aku lebih suka kekonyolan dan keseruan para karakter cowok.

v  Setting
Berlatar dominan kota Bandung. Setting sekolah Darmawangsa di sini kubayangkan kayak sekolah-sekolah elite. Jadi secara keseluruhan membuat novel ini bernuansa mewah. Kok perkataanku jadi seolah-olah ngebahas fairytale ya? Hehe.

Sekolah? Apa itu? Rasanya asing dan berjarak ribuan tahun cahaya. Oke, lebay. Tapi siapa yang bernafsu sekolah dalam situasi seperti ini?
[Halaman 237]


v  Gaya Bahasa, Dialog, Sudut Pandang
Gaya bahasa khas remaja dengan segala emosinya yang berapi-api. Paling suka sarkasnya Wynter dan sumpah-serampah/umpatannya yang kreatif seperti tikus peyot! Kalkun kutuan!, dst. Bukannya membuat naik pitam, malah bikin pingin ngakak. Batal marah deh.

Banyak juga dialog-dialog yang menyentuh dan quotable. Selipan nasehatnya juga nggak terkesan menggurui. Sambil lalu tapi jleb di hati.

Diceritakan dari sudut pandang Wynter, dijamin nggak akan bikin kamu bosan. Dia anak yang benar-benar menyenangkan dan sering mengoyak hati. Siap-siap lumer aja.

v  Alur, Konflik, Emosi
Kamu percaya,  ada persahabatan yang tulus antara cowok dan cewek? Kayak soulmate, saling menyayangi tanpa ada perubahan rasa sampai ... akhir?
[Halaman 7]

Pace alurnya terkontrol. Kita bakal dibawa naik turun dengan fluktuasi emosi yang ada. Konfliknya rumit, tapi nggak sampai bikin sakit kepala. Jumlah halaman yang tebal benar-benar membantu untuk menggali emosi dan menarik simpati akan kisah yang tersaji.

Kamu nggak akan menyesal harus bergulat dengan 425 halaman karena hasilnya bakal sepadan. Aku nggak yakin bakal mengalami efek yang sama kalo jumlahnya dipangkas hanya demi menekan biaya produksi. So, nggak heran buku ini juga minta biaya yang lumayan besar. Tapi melihat harga pasaran buku sekarang, kayaknya harga segitu masih wajar bahkan tergolong murah mengingat kualitas cetakannya.

v  Ending, Pesan
Aku suka endingnya. Semua rasa penasaranku terjawab sudah. Banyak pesan yang terselip di novel ini, tapi yang paling bisa mewakili cerita menurutku adalah kenyataan bahwa setiap orang punya masalahnya masing-masing (demons yang harus mereka lawan), dan kita nggak bisa mengukur atau membanding-bandingkannya. Just kill them!

Secara keseluruhan, buku ini sangat kurekomendasikan buat para remaja ataupun yang telah berhasil melewati fase itu, karena masih banyak hal yang bisa kamu pelajari dari sana. Terakhir, tips untuk calon pembaca, lebih baik kalian membaca novel ini di tempat yang tenang, jadi kalian tak akan terlalu malu jika nantinya menyadari diri kalian telah larut terbahak-bahak atau justru menangis sesenggukan.

Play the moments. Record the happiness. Pause the fear. Stop the pain. Rewind the memories.
[Halaman 255-256]

For Wynterians, go hug your parents now, and tell them, “I love you”.
[Halaman 5]


Read more...

Rabu, 22 Agustus 2018

Teenlit Thriler Bernuansa Horor yang penuh Romansa

| | 0 komentar

Johan Series (Obsesi, Pengusus MOS Harus Mati, Permainan Maut, dan Teror): Thriler Bernuansa Horor yang penuh Romansa.
.
Ada yang pernah baca #JohanSeries ?
.
Ini salah satu series teenlit lokal favoritku 😍. Tahun lalu baca Obsesi (pas bulan puasa). Nah tahun ini langsung babat sisanya. Pengurus MOS Harus Mati kebetulan dibaca pas bulan puasa juga. Ambil jeda dan lanjut Permainan Maut + Teror yang selesai beberapa hari lalu.
.
Awal mula aku tertarik sama buku ini sebenernya karena suka sama judul buku keduanya 😅. Ngingetin aku sama temen yang punya kisah suram di MOS dan jadi benci panitia (yang kebetulan di sekolahku pasti dihandle OSIS, dia cerita pas aku udah jadi pengurus OSIS coba 😂).
.
Dari situ aku membulatkan tekad buat koleksi series ini. Belinya acak, jadi baru kubaca setelah terkumpul semuanya (hampir dua tahun semenjak pertemuan awal).
.
Dan ya ampun. Aku gak nyesel. Aku suka perpaduan nuansa horor-misteri-thriler yang dibalut dengan kisah persahabatan dan romansa 😂. Jadi pas jantung melompat-lompat karena tegang, tiba-tiba malah meleleh karena interaksi tokoh yang kelewat sweet. Serial Johan Series yang paling kusuka ceritanya secara keseluruhan itu buku pertama dan kedua (langsung baper mood on). Tapi ending favoritku buku ketiganya 😂.
.

Buku pertama (Obsesi) nyeritain hal-hal aneh yang mulai menimpa Jenny Angkasa (yang punya panggilan ekstrim Jenny Jenazah). Ada tiga faktor yang dicurigai sebagai penyebabnya.
1. Hantu di rumah Jenny yang mulai usil. Sacara rumah yang belum lama dibeli keluarga Jenny tersebut terkebal angker.
2. Kutukan Hanny yang ternyata manjur. Hanny ini sebenarnya satu-satunya sahabat Jenny, tapi karena suatu insiden dan kesalahpahaman, Hanny marah dan mengutuk Hanny agar menjalani hidup sial selamanya.
3. Ada misteri lain yang jauh dari prediksi mereka.
.
Buku kedua (Pengurus MOS Harus Mati), lebih fokus ke karakter Hanny yang direkrut sebagai pengurus MOS. Sayangnya, pekan MOS tersebut malah jadi bencana. Banyak korban berjatuhan, terutama dari pihak panitia. Beberapa hal yang dicurigai sebagai penyebabnya adalah:
1. Kisah horor yang dikarang panitia untuk menakut-nakuti para murid baru menjadi kenyataan dan berbalik menimpa mereka.
2. Ada murid baru yang ingin balas dendam atas perkakuan panitia yang tidak menyenangkan selama MOS berlangsung.
3. Ada oknum yang tidak senang dengan aktivitas panitia MOS dan ingin menghancurkan acara mereka. Kita sebut Oknum X.
4. Seseorang telah kembali.
.
Buku ketiga (Permainan Maut), menceritakan kamp pelatihan Judo yang diikuti Tony dan Markus berubah menjadi tragedi. Tidak hanya mereka terjebak di villa angker, satu per satu para peserta mulai hilang entah ke mana. Benarkah hantu kakak-beradik villa tersebut sedang kesepian dan menyeret mereka ke alamnya untuk menemani?
.
Buku keempat/terakhir (Teror). Kembalinya si psiko yang ingin balas dendam. Teror bertebaran mengacam nyawa para tokoh utama dan orang-orang di sekitar mereka.
.
.
Secara keseluruhan, ini teenlit lokal yang wajib banget dikoleksi. Tapi siap-siap menghadapi jantung yang bakal loncat-loncat tak terkendali. Entah ketika malapetaka mengintai dari balik bayang-bayang, atau karena kamu tahu bahwa kamu tak pernah sendirian.
.
Hahaha, semoga peringatan yang bersifat general ini gak kamu tafsirkan dari satu sisi, karena percayalah buku punya cita rasa gado-gado. Terlalu nikmat untuk sekadar mejeng di toko buku,
Read more...

Review The Fiil-in Boyfriend: Eksistensi yang Butuh Diakui

| | 0 komentar


The Fiil-in Boyfriend: Eksistensi yang Butuh Diakui




Judul: The Fiil-in Boyfriend
Penulis: Kasie West
Penerjemah: Orinthia Lee
Penyunting: Selsa Chintya
Penyelaras Akasara: Titish A.K.
Desain Sampul: Chyntia Yanetha
Penata Sampul: @teguhra
Penerbit: Penerbit Spring
Terbit: Cetakan ke-1, Juli 2017
Halaman: 348 halaman
ISBN: 978-602-60443-7-2

Blurb:
Saat pacar Gia, Bradley, memutuskan hubungan dengannya di tempat parkir prom, Gia harus berfikir cepat. Dia harus mencari pengganti Bredley karena harus membuktikan kepada teman-temannya bahwa Bradley memang nyata. Jadi, saat dia melihat seorang cowok keren yang sedang mengantar adiknya, Gia memohon bantuan cowok itu. Tugas cowok itu sederhana, menjadi pacar palsu Gia ̶ selama dua jam, tanpa komitmen, dan beberapa kebohongan kecil. Setelah itu, Gia bisa mencari cara untuk mendapatkan Bradley kembali.
Masalahnya, setelah prom, yang dipikirkan Gia bukanlah Bradley asli, tapi Bradley Palsu. Cowok yang bahkan namanya tidak dia ketahui. Apa Gia bisa menemukan Bradley Palsu? Jika memang mereka akhirnya bisa bertemu, apa yang harus Gia katakan?
****
Dicap sebagai pembohong oleh sahabat sendiri tentu bukan pilihan bijak di malam yang sudah dinanti-nantiakan Gia, salah seorang gadis populer di sekolah. Malam prom harusnya jadi momen terbaik untuk memamerkan Bradley, pacar yang telah ia bangga-banggakan selama dua bulan terakhir. Tapi rencana itu hancur karena Bradley tak ingin jadi ikon pelampiasan Gia untuk menunjukkan eksistensi diri di depan teman-temannya. Yah, kau bisa mengukur kedalaman cinta beserta motifnya dari kalimat yang diucapkan pasanganmu setelah lama tak bertemu.
Tergucang? Pastinya. Tapi Gia tak punya banyak waktu menikati kesedihannya. Ia perlu berfikir cepat untuk membuktikan pada sahabat-sahabatnya bahwa ia tak berbohong, bahwa Bradley benar-benar nyata. Meskipun jalan yang diambil Gia justru bisa memperburuk keadaan. Menghindari ‘label pembohong’ dengan benar-benar ‘menjadi pembohong’.
Seorang cowok yang terlihat punya waktu luang serta dirasa memenuhi standar untuk menjadi Bradley Palsu secara tak sengaja tertangkap penglihatan Gia yang masih berdiri di area parkir. Cowok itu bukan berasal dari SMA Gia, wajahnya cukup asing di daerah tersebut, terlihat cukup oke dan yang terpenting, tidak sedang menjadi pasangan prom orang lain, kriteria sempurna untuk rencana Gia yang butuh alibi meyakinkan.
Jadi setelah mengatur kesepakatan, keduanya langsung berakting sebagai pasangan dan mengakhiri adegan itu dengan cukup dramatis di samping membuatnya terlihat natural. Agar kebohongannya itu tetap jadi rahasia, berharap ia dan kawan-kawannya tak pernah lagi bertemu cowok tersebut menjadi jalan teraman. Tapi siapa sangka, hatinya jutru meminta sebaliknya. Cowok yang tidak Gia ketahui nama aslinya itu malah terus terlintas di benaknya.
Dari sini tangan takdir berkonspirasi dengan kemauan Gia, membawanya pada situasi-siatuasi yang memungkinnya mengetahui keberadaan ‘Bradley Palsu’, melakukan interaksi yang harus ia sembunyikan dari kelompoknya. Gia yang tadinya hanya memedulikan eksistensinya di mata orang lain secara perlahan akhirnya mulai bisa menghargai keberadaan orang lain di sekelilingnya.
****

 A: “Hey, Gia,”
B: “Hai. Maaf aku tidak tahu namamu.”
A: “Aku hanya pernah berada di empat kelas yang sama denganmu tiga tahun ini. Mana mungkin kau tahu aku?
-halaman 57-


Jujur, siapa sih yang tidak sakit hati karena tidak dikenali padahal kalian sudah berinteraksi dalam jangka waktu yang cukup lama? Ya, kurasa setiap orang sadar tidak sadar butuh keberadaannya diakui. Itu sebabnya akan ada ego yang terluka jika sampai hal tersebut tidak terpenuhi. Di novel ini kamu juga akan tahu bahwa menjadi pelaku atas hal tersebut juga tidak mudah. Ada rasa bersalah yang menohok kesadaran, menjadi bayang yang akan menghantui sampai kamu yakin korbanmu tidak lagi sakit hati.
 Tentu permasalahan kesadaran eksistensi ini sangat sulit diakui. Kebutuhan atas ‘pengakuan diri’ ini sering dipandang sebagai aib sehingga harus ditutup-tutupi. Dengan bangga mengatakan bahwa kita tak memerlukan legalisasi atas pencapaian apapun tapi secara refleks merasa bahagia jika mendapatkan pujian. Mungkin ini yang menjadi nafas media sosial dalam menyediakan fasilitas seperti like, komen, retweet atau sejenisnya. Di sana kita bisa memenuhi kebutuhan tersebut tanpa tanpa perlu merasa malu. 

 A: “Berapa likes yang didapat?”
B: “Hanya lima belas. Kalau tidak mendapatkan lebih dari itu, aku akan menghapusnya.”
-halaman 197-

B:”Kalau aku mengunggah foto sebatang pohon yang kulihat di dalam hutan dan tak seorang pun memberi like, apakah aku akan bertanya-tanya kalau itu sungguh terjadi?”
-halaman 198-

Terlebih jika ada yang menyadarkanmu akan hal tersebut dengan cara ekstrim (baca: blak-blakan tanpa menunjukkan rasa segan, lebih-lebih rasa bersalah). Pasti akan ada rasa menggebu-gebu untuk membantah. Dan inilah isu paling menohok di The Fiil-in Boyfriend. Meski bukan jadi konflik utama, karena bisa dilihat sendiri bahwa ini termasuk novel sweet romance ala teenlit, permasalahan sisipan ini jadi punya bobot yang cukup memberi isi pada novel.
Mungkin kamu akan jadi pendukung si B pada percakapan di atas karena usahanya dalam memberi pencerahan bahwa kita harus lepas dari ketergantungan eksistensi untuk membuatmu merasa masih hidup. Ya dia benar, aku mengakui itu. Tapi jauh di sudut hatiku, aku akan mementahkan lagi pernyataan itu dengan kembali ke halaman-halaman awal yang secara tipis menyiratkan bahwa pengakuan atas keberadaan itu merupakan suatu kebutuhan yang bisa kamu lihat di contoh sebelumnya.
Mungkin tepatnya, bukan pada persoalan pro-kontra masalah eksistensi, melainkan penyikapan akan hal tersebut. Bahwa bukan hanya keberadaan kita yang perlu jadi spotlight, melainkan keberadaan tiap orang merupakan spotlight bagi dirinya sendiri. Dan, keberadaan kita tidak hanya tergantung pada kesadaran orang lain, tapi kesadaran kita akan keberadaan diri kita. Jadi kebahagiaan kita atas penghargaan tak harus berasal dari apresiasi orang lain, tapi apresiasi kita terhadap diri sendiri yang harus sama besar ketika mengapresiasi orang lain, karena setiap individu sama pentingnya dalam relasi kehidupan.
Read more...

Minggu, 18 Februari 2018

Akan Selalu Ada Pengecualian dalam Tiap Hal - Review “City Lite: Dirt on My Boots”

| | 2 komentar


Akan Selalu Ada Pengecualian dalam Tiap Hal
Review “City Lite: Dirt on My Boots”


Judul               : City Lite: Dirt on My Boots
Penulis             : Titi Sanaria
Editor              : Dion Rahman
Penerbit           : Elex Media Komputindo
Terbit               : September 2017 (cetakan pertama)
ISBN               : 978-62-04-4723-0
Tebal               : 300 hlm

Blurb:
Entah ini kutukan atau anugerah, tapi ada banyak laki-laki tampan di kantorku.
Bos besarku masih menawan di usianya yang sudah enam puluhan, namun tentu saja dia bukan pilihan potensial. Aku mencari kekasih, bukan ayah angkat. Lalu Pak Freddy, laki-laki paling tampan di kantor. Dia punya senyum maut yang sayangnya hanya diperuntukkan istrinya. Masih ada pria yang tidak kalah tampan di divisiku lho, dan mereka lajang!
Hore...? tidak juga.
Putra lebih muda dariku, tapi menjalin cinta dengan berondong tidak ada di daftarku. Sandro lebih tua, tapi aku tak menemukan ada aliran listrik yang tiba-tiba membentuk koloni, bersarang, dan mendadak mengepak bersamaan di perutku.
Lalu Pak Andra, bos baru di kantorku dengan bokong terindah di dunia. Ya, dia potensial. Tampan dan pintar, dua keunggulan yang hanya dimiliki satu dari seribu laki-laki di dunia. Barangkali masalahnya ada pada diriku. Aku jelas bukan calon potensial baginya. Aku tidak memiliki apa yang diharapkan olehnya, atau lelaki lainnya di dunia ini. you know what i mean–sesuatu yang besar di bagian tubuhmu. Tapi yang jadi masalah, seharusnya sejak awal aku tahu kalau dia tidak mempercayai komitmen.
Kebingunganku semakin berlimpah-ruah, ketika suatu pagi aku terbangun di sebuah ranjang dan mendapati sosoknya berada di sampingku. Semenjak itu pikiranku kian terusik. Apa yang sudah kulakukan dengan bosku? Atau, tepatnya, apa yang telah bosku lakukan kepadaku?
****
Dirt on My Boots merupakan dobrakan kebiasaan Titi Sanaria yang lazimnya menulis dengan gaya mellow. Karya ini mulanya diposting di Wattpad hingga kemudian berakhir di meja redaksi Elex Media karena hasutan seseorang (yang penasaran bisa baca sendiri di bagian prakata dari penulis). Karena berlabel ‘Novel Dewasa’, saya sempat dilema antara ingin baca lantaran terpikat quote yang diposting salah satu teman blogger dan gak ingin baca karena ya– kalian taulah,,, *saya tipe pembaca yang sok lugu jadi agak malu-malu gitu meski umur sudah memenuhi syarat, hehe.
Dibuka dengan dialog ‘seberani’ itu, pasti udah kebayang bakal kaya apa perbincangan-perbincangan yang disuguhkan bukan? Yups! Konten-konten ‘nakal’ memang menjamur di novel satu ini. Tapi tenang, bisa dibilang kenakalan-kenakalan itu hanya berupa tell, not show. Lagi pula meski cakapannya rada vulgar, tapi penulis berhasil membalutnya dengan bahasa elegan yang seringnya malah bikin ngakak. Tapi ini pendapat pribadi sih, habisnya sampe sekarang saya saja masih bingung bedanya konten dewasa dengan konten porno.
Owh ya! Seperti yang saya sebutkan tadi, karena novel ini bertabur konten nakal jadi mungkin akan banyak istilah yang asing bagi pembaca yang masih lugu ataupun pembaca-pembaca alim –saya bukan termasuk keduanya sih, cuma kadang sok polos aja. hehe–. Saya sendiri kadang menebak-nebak atau kalo bener-bener penasaran ya googling. Sedikit cerita nih: untuk istilah ML sebenernya udah kenal lama tapi gak pernah bener-bener nyari artinya, dan baru-baru ini akhirnya saya tahu bahwa kepanjangan ML = Making Love (bercinta). So, jangan kaget kalo harus menerjemahkan/mengarang bebas pas ketemu kata-kata unfamiliar karena nggak akan ada catatan kaki yang ngasih penjelasan.
Oke! Kembali ke topik. Arti harfiah Dirt on My Boots yakni Kotoran di Sepatu Bot Saya. Kenapa saya singgung? Karena beberapa waktu lalu saya menemukan komentar salah seorang pembaca yang masih nggak ngeh antara judul dengan isi novelnya. Saya sendiri masih kurang yakin analisis saya benar atau salah. Tapi yang saya tangkap, ungkapan yang dijadikan sebagai judul itu juga bisa ditafsirkan ‘suatu kemalangan/kesialan’. Sehingga benang merah keduanya adalah karena novel ini menceritakan kemalangan-kemalangan Sita berkat mulutnya yang kekurangan filter terutama ketika berkaitan dengan Pak Andra (bos barunya). Mulai dari ketahuan menggosipkan Pak Andra bersama geng mesum kantor –yang tentu saja jauh dari bahasan normal (percakapan kurang wajar untuk didengar di kantor)– sampai kebohongan-kebohongan kreatif yang sialnya selalu saja jadi bumerang.
Sebentar, apakah aku baru saja memaki lagi?
Astaga, tumpukan dosaku rasanya semakin menggunung.
Makian, bacaan, dan tontonan porno.
Aku benar-benar sudah tidak tertolong.
–hal 2–
Dari awal, suara tokoh Sita ini emang menonjol. Ngakak ngikutin jalan pikiran nih anak. Sok-sokan ‘perpengalaman’ padahal masih perawan, belum lagi tanggapan-tanggapan blak-blakan dan penuh satire kalo dia gak suka sama sesuatu. Sayang, di bagian-bagian akhir aku merasa suaranya kian melemah.
Percakapan Sita dan gerombolan mesum sekilas menyiratkan dia bukan tipe orang yang berfikiran kolot. Maksudku bukan pada konteks dia yang sebenarnya memegang teguh pendirian having sex after married. Melainkan pandangan Sita yang menjadi terkesan ‘berjarak’ kepada para pelaku one-night stand padahal di awal-awal Sita tampaknya cukup setuju bahwa cara hidup itu udah pilihan masing-masing orang, kita nggak berhak menghakimi. Apalagi having sex-nya mereka (pelaku one-night stand) dilakukan secara sadar. Kalo kata Putra mah, ‘ML bareng, enaknya bareng’.
Masing-masing karakter gerombolan mesum kantor sebenarnya gak kalah mencuri perhatian, gak ada mereka gak akan rame. Tapi tokoh favoritku tetep Kak Gian. Sumpah, bikin ngiri sama perhatiannya ke Sita. Kadang berasa nyesek pas nyadar kalo komentarnya sekadar sebagai ‘kompor’. Hatiku langsung meleleh tiap kali dia nyebut ‘Dek,’. *Huaaa baper moment!
Sebagai salah satu cerita yang mengangkat romance office, kurasa “Dirt on My Boots” sudah berhasil membawakannya dengan sangat apik. Bisa tengok sendiri kejelian detail nuansa kantor, strata, dan job-job yang harus dikerjakan beserta halang-rintangnya.
Kendala membaca “Dirt on My Boots” selain yang sempat kusinggung di atas adalah nama tokoh-tokohnya yang hampir mirip: Freddy-Fendy (alias Pak Andra), Bara-Andra-Putra-Sandro-Marco, Sita-Raisa. Atau mungkin ini cuma perasaan saya? Entahlah,,,
Btw, perjalanan menuju endingnya sedikit kurang greget. Bingung ngungkapinnya, yang jelas terasa kurang nendang aja. Mungkin karena ada konflik yang harusnya bisa lebih di-explore, atau redaksi apapun yang sejenisnya.
Untuk fisiknya: pertama aku suka banget sama cover-nya., eye catching! Sayangnya meski mataku masih normal aku jelas lebih memilih kalo ada ukuran font yang lebih besar (maksudku ukuran font di blurb dan dalam novel). Dan satu lagi, saya mendapati tinta dalam isi novel yang gak merata. Entah ini terjadi pada semua terbitan atau hanya beberapa eksemplar yang kurang beruntung. Tapi tetap termaafkan karena masih bisa dibaca.
(sebenernya mau buktiin, tapi pas difoto jadi gak jelas bedanya)

Secara keseluruhan ini cerita yang kocak dengan konflik ringan serta gaya bahasa yang renyah. Cocok buat kalian yang bisa berpikiran terbuka serta dewasa. Kalian juga harus maklum saat menemukan tokoh dengan suatu pendirian yang akhirnya lentur, karena sadar atau tidak sadar akan selalu ada pengecualian dalam tiap hal.
Gue tahun lalu: cinta sejati itu omong kosong.
Gue sekarang: cinta itu adalah seraut wajah yang membuat hati bahagia saat menatapnya, gelak yang meluruhkan kepenatan seberat apa pun di penghujung hari, dan perasaan nyaman seperti pulang ke rumah setelah berpetualang saat memeluk tubuh yang menyambutmu dengan sukacita.
–hal 288-291–

Read more...

Popular Posts

Blogger templates

Blogroll

About This Blog

 

Designed by: Compartidísimo
Images by: DeliciousScraps©